Pagi pun menyapa, Hinata membiarkan cahaya mentari pagi masuk dan menyilaukan mata Riz yang masih terpejam.
"Ayayaya, hoammzz.. udah pagi lagi" ucap Riz.
"Ya, cepetan bangun dan siap-siap ri-chan" kata Hinata.
"Hmm, nyem,nyem, iya deh iya" ujar Riz sambil menggosok-gosok matanya, lalu mengambil handuk dan masuk ke kamar mandi.
"Aku dah siap nih" ujar Riz.
"Ayo berangkat sekarang yug" kata Hinata.
"Oke" jawab Riz.
Mereka berdua berjalan menuju ke sekolah seperti biasanya. Ketika mereka berdua sedang berjalan masuk gerbang Daisuki Gakuen, Hiden lewat di samping mereka untuk memarkir motornya. Hiden menoleh ke arah Riz dan tersenyum ramah. Riz yang melihat Hiden seperti itu tiba-tiba saja menunduk untuk mengalihkan pandangan.
"Ri-chan, apa kau baik-baik saja?" tanya Hinata yang menatap wajah Riz yang menunduk.
"Ah,em?! Aku baik-baik aja kok, hehe" kata Riz mengangkat wajahnya lagi dan tersenyum ke arah Hinata.
Hinata sama sekali tak mengetahui apa yang terjadi di taman itu karena Riz tak menceritakannya pada Hinata.
"Ahh, sudahlah, tak perlu di pikirkan lagi" bisik batin Riz.
Riz dan Hinata belajar seperti biasa di kelas mereka.
Tapi, ada yang berbeda di hari itu. Saat Riz dan Hinata makan di kantin Oishi, Naru-sensei juga sedang makan di sana.
"Hey, Ri-chan, Hina-chan" sapa Naru-sensei.
"Selamat siang, sensei" balas Riz dan Hinata.
"Saya boleh bergabung dengan kalian? Meja-meja tampak penuh dengan anak-anak" ujar Naru-sensei.
"Tentu saja, sensei" jawab Riz.
Hinata hanya terpana, ia tak menyangka akan makan semeja dengan orang yang di sukaianya.
"Ehem.. ehem.." Riz pura-pura serak.
Hinata menoleh heran ke arah Riz.
"Hehe" cengir Riz.
"Hmm.. Kalian udah pesan?" tanya Naru tiba-tiba.
"Udah, sensei" jawab Hinata.
"Kalian pesan apa?" tanya Naru-sensei lagi.
"Saya pesan ramen ichiraku seperti biasanya, hehe" jawab Riz.
"Kalo kamu Hina-chan?" tanya Naru-sensei menatap ke arah Hinata.
"Ngg?! Saya?! Saya pesan onigiri dan sushi, sensei. Kalo sensei sendiri?" ujar Hinata.
"Saya pesan ramen ichiraku juga" kata Naru-sensei.
"Ohh.. Ternyata kalian sama-sama suka ramen ichiraku ya. Hehe" ujar Hinata.
"Mungkin karena satu klan" jawab Riz.
"Haha, mungkin juga" ujar Naru-sensei.
Makanan datang dan mereka masing-masing melahapnya.
"Kami duluan ya, sensei" ujar Riz dan Hinata.
"Ya" jawab Naru-sensei tersenyum pada mereka.
Riz dan Hina kembali ke kelas. Dan lagi-lagi Riz berpapasan dengan Hiden di jalan. Seperti sebelumnya Riz mengalihkan pandangnnya.
Sesampainya di kelas, Hinata sibuk mengungkapkan bagaimana perasaannya tadi.
"Huaa.. Ri-chan! Aku senang sekali" ujar Hinata.
"Haha, iya, terlihat sekali dari raut wajahmu yang berseri-seri" ujar Riz.
"Aku hanya tak menyangka kita bisa makan bersama Naru-sensei" ujar Hinata.
"Aku juga" ucap Riz.
"Kau tak seperti biasanya, Ri-chan" ujar Hinata.
"Ahh, masa?! Aku baik-baik aja kok" kata Riz.
"Iya, mulai tadi pagi tampaknya kamu memikiran sesuatu" kata Hinata.
"Hahaha, gak ada kok" ujar Riz.
"Ohh, oke deh!" kata Hinata.
. . .
Sepulang sekolah, tiba-tiba saja Riz di panggil oleh Naru-sensei.
"Ri-chan" ujar Naru-sensei.
"Iya, ada apa, sensei?" tanya Riz.
"Ada sesuatu yang ingin saya katakan, ayo ikut saya" ujar Naru-sensei.
"Baik" jawab Riz.
Mereka berdua ke ruangan Naru-sensei.
"Apa kau sudah mengetahuinya Ri-chan?" tanya Naru-sensei.
"Hah?! Sebenarnya ada apa sensei?" tanya Riz semakin heran.
"Kau tau kenapa kita sama-sama suka ramen ichiraku?" tanya Naru-sensei.
"Karena kita satu klan. Ramen ichiraku merupakan makanan tradisi klan uzumaki" jawab Riz.
"Ya, kita juga berkeluarga" ujar Naru-sensei.
"Hah?! Benarkah itu sensei?" tanya Riz.
"Ya, kamu adalah adik sepupu ku" ujar Naru-sensei.
"Ibu tak pernah mencritakannya pada ku" ujar Riz.
"Itu karena dulu ada masalah di antara ibu kita" jawab Naru-sensei.
"Apakah mereka sudah berdamai kembali?" tanya Riz.
"Entahlah" jawab Naru-sensei.
"Baiklah Naru, sepertinya kita harus menyelesaikan masalah itu nanti" ujar Riz.
"Ya, nanti akan kita bahas lagi" kata Naru-sensei.
"Aku harus kembli pada Hinata dulu" ujar Riz.
. . .
Setelah kejadian itu, Riz jadi dekat sekali dengan Naru. Hinata yang mengetahuinya menjadi heran dan curiga.
"Ri-chan, kenapa sekarang kamu jadi sering berurusan dengan Naru-sensei?" tanya Hinata.
"Ohh, ada urusan antara kami yang harus di selesaikan" jawab Riz.
"Urusan apa?" tanya Hinata.
"Ohh, gapapa. Hehe" jawab Riz.
"Kamu kok tega sama aku pakai rahasia segala, Ri-chan. Apa kamu juga menyukai Naru-sensei?" tanya Hinata curiga.
"Tidak, Hina-chan. Aku tidak menyukai dia" jawab Riz.
"Atau jangan-jangan malah Naru-sensei menyukaimu?" ujar Hinata.
"Nggak Hina-chan, Naru tidak menyukai ku, sepertinya kau salah paham" ujar Riz.
"Trus kenapa kamu jadi deket gitu sama Naru-sensei?" tanya Hinata.
"Yang jelas tidak mungkin aku menyukai sepupu ku sendiri" ujar Riz.
"Jadi kalian berkeluarga?!" tanya Hinata terkejut.
"Ya, Hina-chan. Aku pun juga belum lama ini mengetahuinya. Kami menyelesaikan masalah keluarga kami, mungkin karena itulah kami terlihat sangat akrab" jelas Riz.
"Jadi seperti itu rupanya. Maaf ya, Richan.. Aku udah salah sangka sama kamu" ucap Hinata.
"Ya, gapapa kok. Sekarang masalah itu juga udah selese. Maaf juga karena aku baru menceritakannya" ujar Riz.
"Syukurlah, aku turut senang. Gapapa kok." kata Hinata.
Karena Riz sudah akrab dengan Naru-sensei. Riz, Hinata, dan Naru-sensei pun jadi sering jalan bersama. Kadang Riz dan Hinata datang pada Naru-sensei, mengeluh susahnya atau tak mengerti pelajaran sejarah Jepang. Mereka semakin dekat. Riz bisa membaca perasaan antara Hinata dan Naru-sensei.
Tiba-tiba saja Riz teringatkan tentang Hiden, setelah melihat kontak Hiden di handphonenya.
"Kontak ini masih tersimpan di handphone ku" ujar Riz.
"Apa aku hubungi saja ya nomer ini" kata Riz dalam hati.
Akhirnya, Riz memberanikan diri mengirim sebuah sms pada kontak bernamakan Hiden itu.
Hanya satu kata. "hy"
Cukup lama Riz menunggu balasannya, hingga Riz pun sempat tertidur.
*penulis: ya ampuunn.. tepar si mba. ckckckck*
Kemudian tiba-tiba aja handphone Riz bergetar dan membangunkan Riz. Riz pun meraih handphonenya. Di layarnya terbaca, satu pesan baru dan tertera nama pengirimnya, "HIDEN".
Setelah pesan itu di buka ternyata Hiden membalas..
"Hy juga. Ini siapa ya?".
"Ini orang yang pernah kamu pinjami sapu tangan" balas Riz.
"Ri-chan?" balas Hiden.
"Iya, ini Riz. terimakasih" balas Riz.
"Terima kasih buat apa? Seharusnya aku yang bilang terima kasih" balas Hiden lagi.
"Entahlah.. Aku hny ingin berterimakasih. Iya, sama", sekarang bagaimana keadaanmu? Apa lukamu sudah sembuh?" balas Riz.
"Iya, sudah baikan kok. Makasih sudah menanyakan keadaanku. Emm.. Hari Minggu nanti kamu ada acara nggak?" balas Hiden
"Hah?! Emangnya kenapa?!" balas Riz.
"Aku mau ngajak kamu ke tempat kesukaan ku, sebagai tanda terima kasih. Itu juga kalau kamu mau sih.." balas Hiden.
"Emmm... Hari Minggu ya?? Sepertinya aku sedang gak ada kegiatan apa-apa" balas Riz.
"Bener ya.. kita ketemu di taman jam 9 pagi" balas Hiden.
"Iya deh.." balas Riz, yang berarti telah menyetujui ajakan Hiden.
*penulis: yang bikin dialog sms Hiden di sini couple saya, wkwwkwkwk*
. . .
Hari Minggu yang di janjikan tiba.
"Ri-chan, rapi banget. Kamu mau kemana?" tanya Hinata yang melihat Riz tampak rapi.
"Ohh, aku mau jalan-jalan ke taman" ujar Riz.
"Apa mau ku temenin?" tanya Hinata.
"Ohh, gak usah, Hina-chan. Aku ke sana sendiri aja gapapa kok" jawab Riz.
"Memangnya kenapa kau ingin ke taman?" tanya Hinata lagi.
"Aku ada janji dengan seseorang" jawab Riz.
"Janji sama siapa? Kok kamu gak pernah cerita sama aku sih, Ri-chan?!" ujar Hinata.
"Emm.. Aku pergi dulu ya, dah cantik.." ujar Riz meninggalkan Hinata.
"Tunggu, Ri, Ri-chan.. " ucap Hinata tetapi Riz sudah terlanjur pergi.
. . .
Riz langsung menuju taman, tempat Riz dan Hiden janji bertemu.
Riz duduk di sebuah kursi panjang di depan taman.
"Hy" sapa Hiden menepuk pundak Riz dari blakang.
"Ngg?!" Riz menoleh ke belakang.
"Ohh.. Kau rupanya" ujar Riz.
"Hehehe.. Maaf, mengagetkan" ujar Hiden.
"Ohh.. Gapapa kok. Emm.. Memangnya kita mau kemana?" ujar Riz.
"Ada dehh.. Yang penting kamu ikut aku aja dulu. Tunggu disini bentar ya" ujar Hiden.
Hiden mngambil motornya yang di parkir di samping sisi taman.
"Awas kalo kau membawa ku ke tempat yang aneh" ujar Riz saat hiden kembali ke hadapan Riz.
"Udah, tenang aja.. Percaya deh sama aku.." ujar Hiden.
"Habis tampang mu kan tampang orang yang gak bisa di percaya sih.. Cuma bercanda kok, hehe" ujar Riz.
"Masa keren-keren gini di bilang tampang gak bisa di percaya" ujar Hiden.
*penulis: hahaha, narsis deh.. XP*
"Ya ampun, PD banget sih kamu" ujar Riz.
"Udah, cepetan naik, ntar gak bakal nyampe-nyampe lagi kalo gak brangkat-brangkat.." ujar Hiden yang udah stand by di atas motornya.
"Iya, iya" ujar Riz.
"Pegangan yang kuat ya, perjalanan ini akan sangat menegangkan!" kata Hiden.
"Hah?! " ucap Riz.
"Udah, nurut aja daripada entar jatoh, aku yang repot " kata Hiden.
"Iya deh, iya.." kata Riz.
Riz pun berpegangan kepada Hiden.
*penulis: pegangan ma jaketnya aja. Wkwkwk.*
Hiden pun langsung melesat ke tempat tujuan, secepat angin. wuzzzz........!!
karena angin yang sangat kencang, Riz pun menutup mata dan berlindung di balik punggung Hiden hingga sampai tempat tujuan.
Tak berapa lama kemudian mereka sampai, namun Riz tak sadar dan masih berlindung di belakang punggung Hiden dengan menutup mata.
*penulis: yang bikin prolog yang agak panjangan disini dan gambaran apa dan bagaimana tempat spesialnya juga couple saya, hehehe*
"Hey, Ri-chan.. kita dah nyampe nih" kata Hiden.
Lalu Riz membuka matanya, dan Riz pun terkejut. Ternyata Hiden membawa Riz ke lapangan yang sangat indah dan besar, di tengah lapangan, terdapat pohon besar yang di kelilingi padang bunga yang sangat indah.
"Waww.. Apa aku sedang bermimpi?" ujar Riz mencubit pipinya.
"Hahaha, ini bukan mimpi Ri-chan. inilah tempat spesial ku, tempat ini pun hanya beberapa orang saja yang tau" kata Hiden.
"Benarkah? Memangnya siapa aja yang tau tempat ini?" ujar Riz.
"Hanya aku dan kamu aja yang tau" jawab Hiden.
"Kresekk.. Kresekk.." terdengar suara dari arah ladang bunga.
"Apa itu yang di sana?" ujar Riz.
"Tenang aja, itu temanku" kata Hiden.
Kemudian keluarlah seekor kelinci berbulu putih dari ladang bunga menghampiri Riz dan Hiden.
"Heyy, manis.." kata Riz mengelus si kelinci.
"Apa kamu sering ke sini?" tanya Riz pada Hiden.
"Tidak juga, kadang-kadang aku main ke sini, apalagi saat aku merasa bosan" jawab Hiden.
"Ohh.. Ini memang tempat yang cocok untuk merenung" ujar Riz.
Lalu kelinci itu pergi ke pohon besar meninggalkan Riz dan Hiden.
"Sini, ayo ikut dengan ku" kata Hiden menarik tangan Riz.
"Eh,eh,eh.. Pelan-pelan dong.. " ujar Riz yang terseret.
Mereka semakin dekat dengan pohon besar dan sekarang berdiri di hadapan pohon besar itu.
Ternyata si kelinci memanggil teman-temannya, dari balik pohon besar itu keluar seekor rusa, dan burung-burung yang tadi tak terlihat, kemudian menghampiri Riz dan Hiden.
"Wahh.. Ini seperti taman dalam hutan" ujar Riz yang coba mendekati sang rusa.
"Apa kamu merasa senang?" tanya Hiden.
"Ya, tentu saja" jawab Riz tersenyum kepada Hiden.
To be Continoued..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar