Hari berikutnya Riz sudah kembali bersekolah. Hinata begitu senang bisa berangkat, belajar, dan menghabiskan waktu di sekolah bersama sahabatnya Riz. Memang terasa lebih seru ketika mereka berdua bersama.
. . .
"Hinata.. Kamu pulang duluan aja ya.. Aku mau beres-beres loker dulu" kata Riz saat jam pelajaran selesai.
"Aku temenin aja deh, ku tungguin juga gak papa" kata Hinata menawarkan.
"Gak usah, Hina-chan. Kamu duluan aja gak papa kok" kata Riz tak mau merepotkan.
"Okelah kalau begitu, cepat kembali ke asrama ya.." kata Hinata seraya meninggalkan kelas.
"Ok, ok, aku gak bakal lama-lama kok" kata Riz.
Semua kelas Daisuki gakuen cepat sekali kosong. Hinata juga sudah pulang duluan ke asrama. Riz pun merapikan lokernya.
"Haduuhh.. Ternyata banyak juga barang-barang ku di dalam loker ini" kata Riz mulai membersihkan lokernya.
Ternyata saat itu Hiden juga sedang mengerjakan hukumannya untuk membersihkan jendela Daisuki gakuen. Ketika Riz masih mengutak-atik lokernya yang berada di pojokkan kelas, Hiden sudah sampai ke kelas terakhir untuk dibersihkan kaca jendelanya, yaitu kelas 1-5, kelasnya Riz. Dan Hiden dengan segera membersihkan jendela-jendela kelas iu.
*penulis: saking asyiknya ni orang ngerjain hukuman mpe gak sadar masih ada orang dalam kelas. Ckck*
"Kreseeekkkk.. kreseeeekkkk.. " suara berisik di dalam kelas Riz terdengar dari luar.
Hiden yang penasaran apa yang terjadi langsung menengok ke dalam kelas.
"Hey! Lagi ngapain kamu? Kamu mau maling ya?!" seru Hiden tanpa berpikir lebih lanjut.
Riz menoleh ke belakang, ke arah pintu tempat asal suara itu.
"Apa?! Apa maksudmu mengira aku sedang mencuri?!" kata Riz membalas.
"Yeee.. Siapa tau aja kamu mau mencuri barang-barang di loker itu" kata Hiden.
"Apa-apaan kamu! Main tuduh-tuduh orang aja! Sembarangan!" timpal Riz yang mulai emosi tidak terima.
"Siapa yang nuduh? Tuh buktinya aku liat kamu ngobrak-abrik loker orang" kata Hiden sambil mengacung-acungkan kemoceng yang ada di tangannya ke arah loker Riz.
"Enak aja! Itu loker, loker ku sendiri tau! Masa aku mencuri barang-barang di lokerku sendiri?!" kata Riz membela diri.
"Ya udah. Kalau sudah, cepat pulang sana! jangan lama-lama dan jangan sentuh kaca-kaca yang baru ku bersihkan, ntar kotor lagi" balas Hiden. *dari sini Irsyad sdh trlibat dlm pmbuatan ni fanfik. XD. tp maaf ya agk aneh jdnya, krn dialog hiden yg bkin kn 2 org, jd sfatnya ubah".. --' ckck*
"Iya.. Iya.. Aku tau kok! Heh! Bukannya kamu orang yang bikin aku celaka kemarin-kemarin itu ya? Kenapa sih kamu tuh kayaknya selalu aja ngebayang-bayangin aku?!" ujar Riz.
"Kamu kali yang ngebayang-bayangin aku. Apa yang ku lakukan, selalu aja ujung-ujungnya sama kamu. huh!" kata Hiden membalas.
"Ah, geer aja kamu.. Jelas-jelas kamu yang selalu ada bikin gara-gara sama aku" kata Riz lagi.
"Jadi makin lama deh ku disini. Wah, celaka!!! sudah jam segini, aku harus bergegas. Cepat bereskan dan cepat pulang sana!" kata Hiden sambil melihat jam dinding kelas Riz.
"Siapa juga yang mau lama-lama disini. Aku udah selese juga kok" kata Riz sambil membawa barang-barangnya.
"Bagus deh kalau begitu. Jadi aku gak ada yang ganggu." ujar Hiden.
"Ihhh..Kamuuu ini... Udah nuduh pake ngusir-ngusir lagi.." kata Riz dengan emosi.
Karena terlalu kesal dengan Hiden, saat lewat di samping Hiden, Riz mengambil sapu yang ada di samping Hiden dan ingin memukulnya.
Hiden mencegat tangan Riz dan mereka berpandangan satu sama lain untuk beberapa saat.
"Ah, eh, emm.. ini.. hidung mu keluar darah, cepet di lap" kata Hiden memberikan sapu tangan ke Riz.
"Eh.. Iya, makasih.. Aku mau pulang dulu.. " kata Riz bergegas pergi ke luar kelas.
"Tunggu.. Namamu siapa?" seru Hiden.
"RIZ" balas riz.
"Kalau sudah sampai asrama, cepat istirahat, kalau di paksa beraktifitas, tubuhmu gak bakal tahan" seru Hiden berubah jadi perhatian. *ni salah 1 diakog bkinan Irsyad, bda bgt kn ma yg diats yg agk acuhh.. ckckckckck*
Riz segera menuruni tangga dan menghilang dari pandangn Hiden. Tiba-tiba bu Tsunade datang untuk mengecek tugas Hiden.
"Permisi, bu" sapa Riz saat berpapasan dengan bu Tsunade di tangga.
Bu Tsunade hanya membalas sapaan Riz dengan senyum.
"Hiden! Apa kamu sudah mengerjakan tugas mu?" tanya bu Tsunade dengan galaknya.
"Tinggal sedikit lagi, bu" ujar Hiden kembali membersihkan kaca jendela.
"Cepat selesaikan!" kata bu Tsunade lagi.
"Iya bu, saya juga gak mau lama-lama disini" kata Hiden sambil membersihkan kaca.
*penulis: Whahaha.. Hiden nya tetap eksis pas ngebersihin kaca*
"Bagus! Saya akan beri keringanan untuk mu. Hari ini adalah hari terakhir masa hukumanmu" kata bu Tsunade.
"Yes! akhirnya bakal bebas dari hukuman yang menyebalkan ini juga" kata Hiden berbicara dalam hati.
"Saya harus kembali ke asrama." kata bu Tsunade lalu mninggalkan Hiden.
Beberapa menit kemudian, saat bu Tsunade menuruni tangga..
"Hwaaa.....!!" terdengar teriakan bu Tsunade.
Hiden langsung bergegas ke sana.
"Kenapa bu?" kata Hiden, sambil melihat ke bawah tangga.
"Rizzzzzzz......!!" kata Hiden terkejut.
Ternyata Riz pingsan di tangga, saat pulang tadi.
"Hiden! Hiden!" teriak bu Tsunade.
Hiden langsung turun ke tempat bu Tsunade dan Riz. Tanpa basa-basi lagi, Hiden langsung mengangkat Riz ke UKS.
Hinata yang cemas menunggu Riz di asrama mendatangi Riz ke sekolah. Begitu sampai di sekolah Hinata melihat Riz yang di gotong ke UKS dan langsung menyusulnya.
"Ri-chan! Ri-chan! Sadarlah!" kata Hinata mencoba menyadarkan Riz.
Tapi Riz tetap tidak sadarkan diri.
"Hey! Kamu apakan Ri-chan tadi?!" seru Hinata pada Hiden yang berdiri di dekat pintu.
"Aku?! Aku tidak ngapa-ngapain dia. Dia tadi pingsan di tangga" kata Hiden mencoba menjelaskan.
"Pasti dia kelelahan" ujar Hinata melihat wajah Riz yang terlihat pucat.
"Hina-chan, sebaiknya bawa pulang Ri-chan, biar dia istirahat di asrama saja" kata bu Tsunade.
"Baik, bu!" jawab Hinata.
"Hiden, bantu Hinata membawa Ri-chan" perintah bu Tsunade.
"Ya, bu" ujar Hiden.
Bu Tsunade pulang ke asramanya. Hinata dan Hiden memapah tubuh Riz pulang ke asramanya.
"Ini semua pasti gara-gara kamu" kata Hinata sangat kesal.
"Ahh.. Sudah! Bukan saatnya kau memarahi ku. Sebaiknya kita antar dulu teman mu ini" ujar Hiden.
. . .
Sesampainya di depan kamar Riz dan Hinata..
"Tolong tahan Riz dulu sebentar" kata Hinata seraya meraih kunci di sakunya.
Setelah pintu kamar asrama di buka, tubuh Riz langsung di angkat dan di letakkan di tempat tidurnya oleh Hiden.
*penulis: kayak barang aja ya main angkat main letakkin. Ckck*
"Sekarang kamu pulang saja sana ke asrama putra!" usir Hinata.
"Iya, iya.. Ahh.. galak banget sih kamu" ujar Hiden keluar kamar asrama Riz dan Hinata.
. . .
Beberapa jam kemudian Riz baru siuman.
"Ri-chan!" seru Hina begitu melihat Riz terbangun.
"Hina-chan, kenapa aku tiba-tiba ada disini?" tanya Riz heran.
"Kamu pingsan, Ri-chan. Aku dan laki-laki yang berebut ramen dengan mu itu yang membawa mu ke sini" kata Hinata.
"Ahh, ya.. Kepalaku tiba-tiba terasa pusing saat menuruni tangga dan pandangan ku menjadi kabur. Terus aku tidak tau lagi apa yang terjadi setelah itu" kata Riz mengingat-ingat.
"Sepertinya kamu kelelahan, Ri-chan" ujar Hinata.
"Mungkin saja, Hina-chan" kata Riz.
"Kalau begitu kau besok istirahat saja lagi Ri-chan, aku akan minta izin pada Kurenai-sensei" kata Hinata.
"Gak papa kok, ga usah, Hina-chan. Aku udah baikan kok" kata Riz meyakinkan.
"Walaupun kamu berkata seperti itu, aku tetap saja khawatir" kata Hinata.
"Tenang Hina-chan, aku akan baik-baik aja kok. Aku akan tetap sekolah besok" kata Riz seraya memegang pundak Hinata.
"Ok. aku akan menjagamu. Kamu sudah seperti adikku sendiri, Ri-chan" kata Hinata.
"Iyaa.. " balas Riz.
"Apa kamu tidak ingin istirahat lagi?" tanya Hinata.
"Sepertinya aku sudah terlalu lama tertidur. Wkwkwk" kata Riz.
"Hahaha, iya juga.. Oh, iya Ri-chan. Apa kamu bertemu dengan itu Hiden sebelum kamu pingsan?" tanya Hinata memastikan dugaannya.
"Iya, dia nuduh-nuduh aku maling lokerku sendiri dan ngusir-ngusir aku pula" ujar Riz menceritakan.
"Walahh.. Aku sudah curiga, pasti ada hubungannya sama dia. Hmmm.. " kata Hinata.
"Kata kamu tadi dia ikut mengantarku ke sini?" tanya Riz.
"Iyaa.. Perhatian juga dia sama kamu Ri-chan.. Ckckck" Hiinata mulai menggoda Riz lagi.
"Hwee.. Apa-apaan sih Hina-chan" ujar Riz berubah tak semangat.
"Aduh, aduh.. Jangan ngambek gitu donk. Ntar tambah sakit lho.. Senyum donk. Hihi" ujar Hinata membujuk Riz dengan canda.
*Penulis: Mereka berdua memang sahabat sejati. Pengen deh punya sahabat kaya gitu. Hihi X3*
"Haghaghag" Riz tiba-tiba tertawa.
"Kok malah ketawa? Nahh.. Gitu donk anak manis" kata Hinata ikut tersenyum.
"Iya, iya,cantik. Tadi muka mu itu lucu sih, makanya aku tertawa. Haha" balas Riz.
"Yahh.. Berarti aku kayak badut donk." kata Hinata.
"Cup, cup.. gak kok.. Emm, Hina-chan.. " kata Riz.
"Iya, Ri-chan?!" sahut Hinata.
"Apa kau masih mengharapkan Naru-sensei?" tanya Riz.
"Aku tetap menyukainya, walau ku tau sepertinya aku terlalu mengharapkannya" kata Hinata lesu.
"Sudahlah, Hina-chan.. Maafkan aku ya sudah membuatmu sedih" kata Riz memeluk Hinata.
"Kamu orang yang selalu mengerti aku" kata Hinata.
"Kamu pun begitu, kamu juga selalu mengerti aku, Hina-chan" kata Riz.
Hari semakin larut malam, mereka kembali ke tempat tidur masing-masing dan bertemu sang mimpi.
To Be Continoued
Tidak ada komentar:
Posting Komentar