Semua siswa bersekolah seperti biasanya..
Pelajaran terakhir di kelas Riz dan Hinata adalah pelajaran Matematika dengan Kurenai-Sensei.
"Anak-anak.. Kerjakan LKS halaman 50 bagian B. Hari ini harus di kumpulkan, paling lambat pulang sekolah kumpul sendiri di meja saya" ujar Kurenai-sensei.
"Ya, sensei" jawab anak-anak 1-5.
Setelah pelajaran terakhir selesai..
"Hina-chan, temenin aku ke kantor guru dulu yuk" ajak Riz yang sedang berjalan dengan Hinata.
"Kamu belum ngumpul ya?" tanya Hinata.
"Iya, aku baru selesai, temenin aku ngumpul ke meja Kurenai-sensei yah" ujar Riz.
"Baiklah" ujar Hinata mengiyakan.
Mereka berdua berjalan menuju ruang guru.
Karena terlalu sibuk bercerita sambil berjalan, Riz tidak fokus pada jalan di depannya. Dan tiba-tiba dari arah berlawanan ada seseorang yang berlari tergesa-gesa..
"Braaakk!! aaauu..!!" terdengar suara orang yang terjatuh.
"Ri, Ri-chan!" ujar Hinata.
"Ma.. maaf ya.." kata sesosok laki-laki pada Riz.
"Heyy.. Kalau lari hati-hati donk" kata Riz berusaha bangkit.
"Yaa.. Sekali lagi maaf ya" kata sosok laki-laki itu mengulurkan tangannya.
Riz menyambut uluran tangan laki-laki itu. Kemudian membersihkan seragamnya dari debu lantai.
"Ka.. Kamu.. " kata Riz kaget.
"Maaf.. Aku harus segera pergi" kata laki-laki itu sambil berlalu.
Riz dan Hinata hanya terheran-heran melihat laki-laki itu pergi. Mereka berdua pun melanjutkan berjalan menuju ruang guru.
"Astagaa.. Orang tadi laki-laki yang di kantin itu lagi" kata Riz menatap Hinata.
"Iya, Ri-chan. Dia lagi.. " ujar Hinata.
"Aneh sekali" ucap Riz.
"Hahaha, ya sudahlah tak usah di pikirkan. Ayo masuk" kata Hinata yang sudah berada di depan pintu ruang guru.
Mereka berdua memasuki ruang guru. Terasa sepi, sepertinya guru-guru sudah pulang ke asrama masing-masing.
"Permisi" kata Riz memasuki ruang guru bersama Hinata.
"Hina-chan, Ri-chan" ujar seorang guru yang berada dalam ruangan itu sendirian.
"Se.. senpai" kata Riz dan Hinata.
Ternyata hanya ada Naru-senpai dalam ruang guru.
"Ada apa kalian ke sini?" tanya Naru-senpai.
"Saya ingin mengumpul tugas pada Kurenai-sensei. Beliau bilang agar saya meletakkannya saja di meja beliau" kata Riz menjelaskan.
Riz mengeluarkan tugasnya dari tas dan meletakkannya di atas meja Kurenai-sensei.
"Permsi senpai" kata Riz dan Hinata membalikkan badannya berjalan menuju pintu.
"Tunggu" seru Naru-senpai menghentikan langkah kedua orang itu.
"Ada apa senpai?" tanya Hinata.
"Bisakah salah satu dari kalian membantu saya?" kata Naru-senpai.
"Biar Ri-chan saja senpai" ujar Hinata.
"Tidak, Hina-chan saja senpai. Saya ingin cepat kembali ke asrama" kata Riz.
"Ri-chan" kata Hinata sambil menginjak kaki Riz.
"Auuu.. " jerit Riz mentap Hinata.
"Ada apa Ri-chan?" tanya Naru-senpai.
"Ohh.. Tidak apa-apa senpai" jawab Riz.
"Jadi bagaimana? Apakah kamu sedang sibuk Hina-chan?" tanya Naru-senpai pada Hinata.
"Ti.. tidak senpai" jawab Hinata.
"Kalau begitu, aku duluan ya Hina-chan. Sampai nanti. Permisi guru" kata Riz lalu meninggalkan Hinata dan Naru-senpai.
"Apa yang bisa saya bantu senpai?" tanya Hinata.
"Tolong bantu saya mengembalikan buku-buku ini ke perpustakaan ya.. " pinta Naru-senpai.
"Baik, senpai" kata Hina mengambil separuh tumpukkan buku di atas meja Naru-senpai.
"Tapi hati-hati ya, pelan-pelan saja" kata Naru-senpai menaruh perhatiannya.
"Ya, senpai" ujar Hinata.
Lalu mereka membawa buku-buku itu menuju perpus. Hina berjalan di belakang Naru-senpai.
Naru-senpai menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang, "Hina-chan, apakah kamu merasa keberatan membawanya? Kalau iya biar saya yang membawa setengahnya lagi".
"Ti.. tidak usah senpai. Saya tidak papa" seru Hinata dengan berusaha menahan berat tumpukkan buku yang di bawanya.
Naru-senpai menunggu Hinata di depan.
Wajah Hinata terlihat berkeringatan.
"Jika kau lelah tidak usah dilanjutkan saja Hina-chan, tinggalkan saja disini dan kembalilah ke asrama. Saya akan kembali mengambilnya" ucap Naru-senpai dengan lembut.
"Tidak apa-apa senpai.." kata Hinata tersenyum berusaha menutupi lelahnya.
Hinata berjalan sejajar dengan Naru-senpai. Perpustakaan Daisuki Gakuen sudah terlihat di depan mata.
Karena jalan Hinata yang lambat maka ia tertinggal lagi di belakang, sedangkan Naru-senpai sudah menaruh buku di atas meja perpustakaan.
Hinata sudah tidak sanggup lagi. dan….
"Bruuuuukkkk.. bruuaaaakkk…." terdengar suara buku-buku berjatuhan di depan perpustakaan.
"Hina-chan.." Naru-senpai terseru kaget dan langsung mendatangi Hinata yang sedang membereskan buku yang berjatuhan.
"Ma..maaf senpai" ujar Hinata.
"Tidak apa-apa. Biar saya saja yang membawa setengahnya lagi" kata Naru-senpai ikut membantu Hinata memunguti buku-buku yang masih ada di lantai.
Mereka berdua begitu dekat. Tak sengaja tangan Naru-senpai memegang tangan Hinata ketika sama-sama mengambil buku terakhir.
"Se.. Senpai.. " ujar Hinata dalam hati sambil menatap Naru-senpai.
Naru-senpai pun juga menatap Hinata. Pandangan antara sepasang mata biru yang tajam dan sepasang mata abu-abu yang indah itu kembali terulang.
*penulis: Kyaaa.. Ngebayanginnya jadi ikut ngerasain saltingnya. Wkakak… XD*
Hinata yang tidak tahan menjadi salah tingkah langsung mengalihkan pandangan ke kedua tangan mereka.
"Ahh, ehh, emm.. Maaf Hina-chan.." kata Naru-senpai segera mengangkat tangannya yang berada di atas tangan Hinata.
Mereka berdiri dan masuk ke dalam perpustakaan meletakkan buku-buku tadi.
"Arigatou, Hina-chan.." ucap Naru-senpai.
"Doita, senpai.. saya harus segera kembali ke asrama" kata Hinata.
"Baiklah. Saya akan mengantarmu" kata Naru-senpai.
Naru-senpai mengantarkan Hinata sampai ke depan asrama Hinata.
"Terimakasih" ucap Hinata.
"Sama-sama" balas Naru-senpai dengan senyumannya yang khas.
*penulis: huahahaha, khas banget, bikin tepar aja ngebayanginnya. X3*
Naru-senpai pulang ke asramanya dan Hinata menuju kamarnya di pojok asrama, kamar bernomer 25.
. . .
"Hina-chan, Naru-senpai minta tolong apa tadi padamu?" Riz langsung menyambut Hinata yang baru kembali dengan pertanyaan.
"Huft.. Tunggu dulu Ri-chan, badanku terasa lelah sekali" ujar Hinata menaruh tas dan menuju kamar mandi untuk membersihkan badannya.
"Memangnya kamu dapat tugas apa sih? Kok kecapean begini?" tanya Riz setelah Hinata duduk menghadapnya.
"Aku ingin istirahat dulu. Bangunkan aku saat makan malam ya" kata Hina.
"Baiklah, pasti ku bangunkan, tidak mungkin aku membiarkanmu yang kelelahan melewatkan makan malam. Haha" kata Riz.
"Ya" balas Hinata singkat.
. . .
"Hina-chan, bangun.. " ujar Riz menepuk-nepuk badan Hinata.
"Hmm.. Nyem, nyem, nyem.. Sudah malam ya?" kata Hinata sambil menggosok-gosok matanya.
"Iya, sudah malam. Ayo kita ke ruang bersama untuk makan malam." ajak Riz.
"Ayo.. " jawab Hinata singkat.
Mereka berangkat ke ruang bersama Daisuki gakuen untuk makan malam dengan seluruh anak-anak dan guru-guru Daisuki gakuen.
Terlihat Naru-senpai makan bersama guru-guru. Dan di kejauhan kakak kelas misterius itu makan bersama-sama dengan teman-teman sekelasnya.
. . .
"Nyam,nyam,nyam.. Kenyang. Whehehe" ujar Riz seraya memasuki kamar asrama.
"Hahaha, oh iya.. Kamu ingin tau Naru-senpai minta tolong apa pada ku bukan?" tanya Hina mengingatkan.
"Ohh ya, ya, ya.. Kau belum menjawabnya Hina-chan. Ayo ceritakan" kata Riz bersemangat.
"Iya, akan ku ceritakan. Tapi, apa kau tidak mengambil cemilan dulu?" tanya Hinata membaca apa yang akan Riz lakukan.
"Hehehe, iya sih.. Aku memang mau mengambil snack kentang goreng yang ada dalam lemariku" kata Riz mengaku.
"Ya udah, ambil dulu sana daripada ntar ceritanya kepotong-potong. Wkwk" kata Hinata.
Riz berjalan menuju lemari dan mengambil bungkusan-bungkusan Chitato.
*penulis: wahahaha. Chitato. Life is never flat. XD*
"Cemilan sudah ada. Whehehe. Sekarang aku sangat-sangat siap mendengarkan" ujar Riz meletakkan cemilan di hadapan mereka.
"Baiklah.. Tadi aku membantu Naru-senpai mengembalikan buku ke perpustakaan" kata Hina sambil mengambil kentang goreng.
"Walahh.. Hanya itu?" tanya Riz sambil ikutan memakani kentang goreng.
*penulis: waaah, gak bagi-bagi neh.. Penulis sama yang baca juga mau. Wkwkwk*
"Iya.. Aku hanya menemani Naru-senpai membawakan buku ke perpustakan" jawab Hinata.
"Pantas saja kau kelelahan seperti itu. Letak ruang guru dan perpustakaan berjauhan" ujar Riz.
"Walau melelahkan aku tetap senang sudah membantunya. Hehe" kata Hinata tersipu.
"Jahahaha.. Aku juga ikut merasa senang walau kakiku menjadi korban injakanmu" kata Riz melirik kakinya.
"Maaf, maaf Ri-chan. Aku sangat kaget sekali saat kau meminta ku saja yang membantu Naru-senpai" kata Hinata dengan ekspresi memelas.
"Hahaha, aku tau kau begitu salting di hadapan Naru-senpai" ledek Riz.
"Ahh.. kau, Ri-chan.. " ucap Hina mengambek.
"Weleh-weleh.. Cup.. Cup.. Jangan ngambek gitu donk Hina-chan, aku kan hanya bercanda" ujar Riz membujuk.
"Gak mau, kamu jahat ahhh sama aku" ujar Hinata lagi.
"Yahhh.. Hina-chan marah ya sama aku.. maafin aku yaahh" kata Riz berbalik memelas.
"Huahahahaha. kena kau!!! Kata siapa aku marah padamu? Kamu sih pakai ngledekin aku segala. Lucu juga kalau kau seperti tadi, seharusnya ku foto dulu ekpresimu itu. ckckck" kata Hinata berubah ekspresi menertawakan Riz.
"Yaaah.. Kena lagi deh aku.. hiksu.. hiksu.. haha" ujar Riz ikutan tertawa.
"Sudah-sudah.. Ayo tidur sudah malam nih, Ri-chan.. " kata Hinata merayap ke tempat tidurnya.
"Hoaaammzz.. Iya, aku juga sudah mengantuk" ujar Riz berjalan ke tempat tidurnya.
Hari yang melelahkan namun sangat berkesan bagi Hinata.
To Be Continoued
Tidak ada komentar:
Posting Komentar