Minggu, 23 September 2012

Daisuki Gakuen Romance ~ Part 6

Keesokan harinya, Riz dan Hinata bersekolah seperti biasa. Dan di hari itu ada pelajaran sejarah  Jepang, pelajaran Naru-sensei.

Seperti biasanya, Hinata selalu merasa deg-degan saat pelajaran Naru-sensei. Setelah pelajaran berakhir, Naru-sensei memanggil Hinata.
"Hinata, bisa ikut saya sebentar?" panggil sang sensei.
"I.. iya.. sensei" ucap Hinata terbata.
"Bisakah kamu menemani saya ke toko buku sore ini?" tanya Naru-sensei.
"Enggg.." tatap Hinata heran.
"Kamu tidak bisa ya, tidak apa-apa kok, Hina-chan" kata Naru-sensei mendahului Hinata sebelum ia menjawab.
"Bukan begitu, sensei. Saya sedang tidak ada kegiatan sore ini" jawab Hinata.
"Syukurlah, saya akan menunggumu di depan Daisuki Gakuen" ujar Naru-sensei.
"Baik, sensei" jawab Hinata.
Hina pun pulang menuju kamar asramanya, di jalan ia bertemu dengan Riz.
"Hina?! Kamu tadi kemana, aku mencari-carimu tapi tidak ada" kata Riz.
"Hehe, aku tadi dipanggil ke ruang Naru-sensei dulu" ujar Hinata.
"Hah?! Naru-sensei?! Memangnya ada apa, Hina-chan?!" tanya Riz dengan ekspresi penuh tanda tanya.
"Dia mengajak ku pergi ke toko buku sore ini" kata Hinata senang.
"Hah?! Serius?!" seru Riz.
"Iyaa, serius" kata Hinata tersenyum.
"Yey, yey.. aku ikut senang, Hina-chan" kata Riz sambil berjalan mengitari Hinata.
Hinata hanya tersenyum melihat tingkah sahabatnya itu.

. . .
Jam sudah menunjukkan pukul empat sore.
"Ciee.. Lama amat dandannya" kata Riz menggoda Hinata.
"Ihhh, Ri-chan.. apaan sih?! Orang cuma siap-siap biasa aja" kata Hinata.
"Iya deh, iya.. Jangan cemberut gitu dong, ntar dandanannya ancur lho.. " kata Riz membujuk.
"Aku pergi dulu ya, Ri-chan" kata Hinata.
"Ya, hati-hati di jalan cantik" kata Riz.

Hinata pun pergi menuju gerbang Daisuki Gakuen. Dari kejauhan terlihat sesosok pria berdiri santai yang sedang membca buku kecil di tangannya.
*penulis: posenya kayak Kakashi tiap baca buku. Santai tapi tetep keren.. Hehehe*
"Sensei!!" seru Hinata sambil melambai-lambaikan tangannya.
"Ehh, Hina-chan" kata Naru-sensei menoleh ke arah Hinata.
"Maaf sudah lama menunggu" ujar Hinata.
"Gakpapa kok" kata Naru seraya memasukkan buku bacaannya ke dalam tas kecil.
"Kenapa sensei mengajak saya?" tanya Hinata.
"Karena kamu salah satu anak yang istimewa" kata Naru-sensei.
"Benarkah, sensei?" tanya Hinata menatap wajah Naru-sensei yang berkilauan.
"Ya, tentu saja" ucap Naru-sensei menggangguk dan tersenyum pada Hinata.
Seketika muka Hinata menjadi merah merona.
"Hina-chan, kamu baik-baik aja kan?" tanya Naru menatap muka hina yang merona lalu meletakkan telapak tangannya di atas kening Hinata.
"Ah, eh, emm.. Gapapa kok, sensei. Hehe" ujar Hinata gugup.
"Syukurlah.. Saya kira kamu sakit" kata Naru mengelus kepala Hinata.
*penulis: kalo saya jadi Hinata, whaaa.. bisa-bisa langsung tepar biar ditolong Naru.. mauuuuu...  Ckckckck*
"Hehe.. Oh iya, sensei. Kita mau kemana?" tanya Hinata.
"Hmm.. Saya dengar di Aishiteru shop sedang mengadakan bazar" jawab Naru-sensei.
"Benarkah? Sepertinya saya juga ingin membeli novel" kata Hinata senang.
"Ya" balas Naru-sensei dengan senyum.
Mereka berdua sampai di Aishiteru shop. Sebuah toko besar yang di penuhi dengan buku" di setiap sudut ruangan. Naru-sensei berjalan menuju tumpukan buku sejarah Jepang. Sedangkan Hinata melihat-lihat deretan buku yang terpajang dalam rak kaca. Langkah Hinata terhenti dan pandangannya terpaku pada sebuah novel yang terpajang di barisan paling ujung.
"Wahh.. Ada Journey of Love!" seru Hinata.
"Hina-chan.." kata seseorang yang menepuk bahu Hinata dari belakang.
"Ehh.. se.. sensei.." kata Hinata terkejut.
"Kamu ingin membeli novel itu?" tanya Naru-sensei.
"Ya, sensei" jawab Hinata.
Hinata pun mengambil novel itu dari rak kaca.

Mereka menuju kasir.
Hinata meraih dompetnya dan memberikan uangnya pada penjaga kasir.
"Tidak usah, biar saya saja yang bayar" kata Naru mencegat tangan Hinata.
"Tapi sensei" ucap Hinata.
"Ya, biar saya saja yang membayarnya" kata Naru-sensei.
Naru-sensei pun membayarkan novel yang dibeli Hinata.
"Te.. terimakasih sensei. Maaf merepotkan" kata Hinata menunduk sambil berjalan.
"Udah, gapapa juga kok, Hina-chan" kata Naru-sensei tersenyum.
Mereka pun sampai di depan gerbang asrama Daisuki Gakuen.
"Sampai jumpa, sensei" kata Hinata masuk ke gerbang asramanya.
"Ya, sampai jumpa juga, Hina-chan" ucap Naru-sensei sebelum berpisah dengan Hinata.

Hari yang sangat indah bagi Hinata, untuk pertama kalinya ia diajak dan menemani Naru-sensei pergi.
"Wieehh.. Hina-chan.. Gimana tadi? Gimana?" tanya Riz begitu Hinata datang.
"Yeyey.. Aku senang sekali, Ri-chan" ujar Hinata.
"Tadi kalian ngapain aja?" tanya Riz lagi.
"Kami cuma pergi ke toko buku" jawab Hinata.
"Terus, terus, apa yang terjadi?" kata Riz penasaran.
"Naru-sensei membayarkan novel ini" kata Hinata menunjukkan bungkusan di tangannya.
"Waw.. Hebaat.. Pantas saja kamu senang sekali. Aku juga ikut senang" seru Riz.
"Hehehe" Hinata tersenyum-senyum.
Kebahgiaan sangat tampat diraut wajah gadis cantik berambut gelap itu, begitu pula sahabatnya yang sangat senang melihat gadis cantik itu tersenyum.

To be Continoued..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar