Pagi hari yang cerah.. Seperti biasa, Riz dan Hinata berangkat ke sekolah.
Guru yang mengajar sedang tidak ada, sehingga jam pelajaran kosong di kelas Riz dan Hinata.
Mereka berdua hanya berbincang-bincang di kursi masing-masing.
Sementara di lapangan Daisuki gakuen terdapat kakak-kakak kelas yang sedang bermain baseball.
Salah satu pemainnya adalah cowok misterius yang berebut dengan Riz di kantin dulu. Cowok itu sedang mendapat giliran memukul bola.
"Siaaapp.. "
"Tankkk.." bola yang berhasil di pukul keras oleh cowok itu memantul dan melambung tinggi. Tetapi bola itu mengarah lurus ke arah kelas 1-5, kelas Riz dan Hina.
"Ahh.. Tidak!! Bolanyaa.. " ujar si cowok pemukul bola.
"PRAAANKKK.. " terdengar keras suara kaca pecah di kelas Riz.
Disusul dengan jeritan "Hwaaaaa.. "
Ternyata bola baseball itu menembus kaca jendela yang sejajar lurus dengan tempat duduk Riz dan mengenai kepala Riz yang saat itu sedang berdiri.
Karena bola datang tiba-tiba dan menghantam kepala Riz. Dan "Bruuukkk..." Riz pun terjatuh pingsan.
*penulis: anehnya, ternyata scene yang ini terjadi hampir mirip di dunia nyata lama stelah saya mengarangnya, saya kena bola basket yang di lempar oleh kakak kelas juga. Puyeng kepala saya. =="*
"Ri-chan! Ri-chan" ujar Hinata panik.
"Astagaa, sial! matilah aku.." ujar si cowok pemukul bola melihat ke arah jendela yang pecah.
"Heyy!!! Kau harus tanggung jawab! Ambil bolanya!" teriak salah satu pemain baseball yang lain.
"Iyaa.. Aku tau.. Akan ku ambil bolanya" ujar si cowok berlari menuju kelas Riz.
Sementara itu di kelas 1-5…
"Cepat bawa ke UKS" seru Hinata pada teman-temannya.
Mereka menggotong Riz yang pingsan menuju UKS.
Melihat keramaian di kelas 1-5 dari kejauhan, si cowok tadi sangat terkejut dan berlari segera menghampiri.
"Misi.. Misi.. " kata anak-anak yang menggotong Riz.
"Hey, tunggu! Dia kenapa?!" tanya si cowok mencegat salah satu siswa.
"Dia pingsan karena terkena bola baseball" jawab si siswa.
"Waduhh.. Tambah gaswat nih ceritanya. Makasih yah" ujar si cowok lalu berlari menyusul rombongan yang menggotong Riz ke UKS.
Sampai di UKS, anak-anak bergerumunan ingin tau apa yang terjadi.
"Sudah! Bubar.. Bubar.. Kembali ke kelas semuanya. Hanya PMR saja yang ada di ruangan ini" ujar Kurenai-sensei yang kebtulan bertugas piket di UKS.
Riz masih tergeletak pingsan dalam UKS.
Hinata sangat khawatir pada Riz sehingga ia tidak beranjak pergi kembali ke kelas. Tinggalah Hinata seorang yang ada di depan pintu UKS.
"Saya ingin menemani Ri-chan, sensei" ujar Hinata meminta izin pada Kurenai-sensei.
"Tidak usah Hina-chan, kamu kembali saja ke kelas ya.. " ujar Kurenai-sensei.
"Baiklah" ujar Hinata kecewa dan kembali ke kelasnya.
Si cowok yang memukul bola itu menyelinap masuk ke UKS setelah semua pergi.
"Astagaa.. Ternyata cewek ini.. " ujar si cowok dalam hati.
Tiba-tiba Riz tersadar..
"Aaauuu.. " jerit Riz memegang kepalanya yang terkena bola.
"Sakit ya.. " ujar si cowok mendekati Riz.
"Heyy!! Siapa kau! Ngapain kamu ada di sini?!" seru Riz menghentikan langkah si cowok yang ingin mendekat.
"Aku hanya ingin melihat keadaanmu" ujar si cowok lagi.
"Ka.. Kamu.. Kamu ini?!" seru Riz terkejut melihat tampang cowok itu.
"Aku Hiden Kirimaru dari kelas 2-1" ujar si cowok memperkenalkan diri.
"Hah?! Kenapa malah memperkenalkan diri?! Sebenarnya kenapa kau ada disini?" seru Riz heran.
"Aku hanya ingin minta maaf.. " ujar Hiden.
"Hah?! Minta maaf…???!!" Riz tambah heran.
"Ya, kamu sekarang begini karena aku" kata Hiden mengaku.
"Jadi kau yang... !! Auuu.. " jerit Riz kepalanya bertambah sakit.
"Sudah jangan banyak bicara dulu! Sepertinya kau harus istirahat" ujar Hiden malah memarahi Riz.
*penulis: yang salah siapa, yang sakit siapa. Kok malah yang salah yang marah-marah ya? Huahahaha. XD*
"Hiden! Hiden! Kau dipanggil Bu Tsunade ke kantornya" kata salah satu teman Hiden yang tiba-tiba datang ke UKS.
"Aku harus pergi dulu.. sampai nanti.. " kata Hiden pada Riz.
"Hey!!" seru Riz.
Hiden bergegas ke ruang Bu Tsunade. Di jalan Hiden berpapasan dengan Hinata.
"Ri-chan, kau sudah sadar" kata Hinata langsung mendekati Riz.
"Kepala ku masih terasa sakit" ujar Riz.
"Ku lihat tadi laki-laki yang dulu berebut di kantin dengan mu itu habis dari sini. Kenapa ia datang ke sini?" tanya Hinata.
"Aku pun juga tidak tau, saat aku sadar dia sudah ada disini. Aneh sekali.. " jawab Riz.
"Hahaha.. terus.. terus.. apa yang terjadi?" tanya Hinata lagi.
"Tadi dia bilang namanya Hiden Kirimaru dari kelas 2-1" ujar Riz.
"Hiden….???!! Menurut kabar yang ku dengar katanya sih dia ketua tim base ball Daisuki gakuen" ujar Hinata.
"Hah?! Benarkah?!" kata Riz terkejut.
"Ya.. anak-anak di kelas sibuk membicarakan dia." kata Hinata.
"Dia tadi ke sini minta maaf pada ku" ujar Riz.
"Hah?! minta maaf?! Untuk apa?" tanya Hinata sangat heran.
"Dia bilang dia yang membuat ku seperti ini. Dia yang memukul bola base ball hingga nyasar ke kelas kita" jelas Riz.
"Apaaa..?! Jadi dia pelakunya!!" seru Hina sangat terkejut.
"Iya, dia mengaku sendiri.. Kenapa sih kayaknya dia ngebayang-bayangin kita mulu ya?" ucap Riz.
"Haha.. Jodoh kali! Wkwk" kata Hinata mulai menggoda Riz.
"Jodoh sama siapa? Hina-chan ya? Wkwkwk" kata Riz balas menggoda balik.
"Yee.. Aku kan sukanya sama Naru-senpai.. Ri-chan tuh yang sama dia.. Hahaha" ledek Hinata.
"Wheee.. Apa-apaan coba, kenal aja nggak" ujar Riz membantah.
"Tadi kan udah tuh kenalannya. Wkwkwk" kata Hinata menepuk-nepuk bahu riz.
*penulis: waduhh.. Kenapa malah main jodoh-johohan. Ckckck*
"Ahh.. Sudahlah.. Lupakan saja.. Apa kamu tidak masuk kelas, Hina-chan? Bel masuk hampir berbunyi nih" kata Riz menunjuk ke arah jam UKS.
"Emm.. Sebentar lagi.. Aku masih ingin menemanimu" kata Hinata mengulur waktu.
"Bisa aja kamu, Hina-chan. Tapi terimakasih ya" ucap Riz senang.
"Tentu donk, aku kan sahabat mu. Ya, sama-sama" balas Hinata dengan senyuman.
"Sepertinya besok aku tidak masuk sekolah dulu" kata Riz.
"Ya, sebaiknya kamu istirahat saja di asrama" ujar Hinata.
"Maaf ya aku tidak bisa menemanimu di kelas" kata Riz murung.
"Ahh.. Sudahlah.. Tidak apa-apa juga. Eh, aku balik ke kelas dulu ya Ri-chan" ujar Hinata.
"Ya.. " balas Riz singkat.
"Aku akan kembali lagi ke sini saat pulang sekolah untuk menjemput mu" kata Hinata beranjak pergi.
"Ok!" seru Riz.
Riz beristirahat di UKS dan Hinata melanjutkan pelajaran di kelasnya.
Sementara di kantor kepala sekolah Daisuki gakuen...
"Hiden! Kamu tau apa yang telah kamu perbuat?!" ujar bu Tsunade mulai marah.
"Iya, bu" jawab Hiden menunduk.
"Kamu harus dapat hukuman untuk itu!" ujar bu Tsunade lagi.
"Baik, bu. Saya akan bertanggung jawab atas kesalahan saya" kata Hiden.
"Baguslah kalau begitu. Hukumannya adalah kamu harus membersihkan seluruh jendela Daisuki gakuen selama seminggu setelah pelajaran selesai" ujar bu Tsunade tegas.
"Hah?!" Hiden terseru kaget.
"Kenapa malah hah hoh heh hoh?! Apa mau ditambah lagi hukumannya?!" seru bu Tsunade galak.
"Eh, yayaya, bu. Ampuun.. Jangan ditambah lagi. Saya akan mengerjakannya, bu" ujar Hiden memelas.
"Ok, mulai bsok kamu harus mengerjakannya!" kta bu Tsunade.
"Iya, bu" jawab Hiden.
"Sekarang kamu boleh kembali ke kelas mu" kata bu Tsunade.
"Terimakasih, bu" ujar Hiden lalu meningglkan ruang kepala sekolah dan kembali ke kelasnya.
. . .
Pelajaran telah selesai...
Hina pun membereskan tas Riz dan bergegas ke UKS.
"Ri-chan.. Hehehe" kata Hinata menyapa Riz yang sedang berebahan.
"Hina-chan.. " seru Riz.
"Aku datang menjemputmu, ayo ku bantu kamu pulang ke asrama" ujar Hinata dengan riang.
"Hahaha, iya, iya.. Makasih banget.. nget.. ngetzzz.., Hina-chan" kata Riz tersenyum.
"Ayo, pulang" kata Hinata seraya membantu Riz bangun.
Mereka berdua pulang ke asrama.
. . .
Beberapa hari Riz tak masuk sekolah, ia hanya beristirahat di asrama.
"Kelas terasa sangat membosankan tanpa kamu, Ri-chan" kata Hinata setelah pulang ke asrama.
"Haghaghag.. Benarkah??" ujar Riz yang sedang berebahan.
"Iya benar, tidak ada lagi orang yang mengajak bicara di samping ku" kata Hinata.
"Wkwkwk.. Besok aku akan sekolah lagi kok" kata Riz.
"Yey! Aku tak akan merasa sepi lagi di kelas" ujar Hinata kegirangan.
"Hehehe, tapi kamu harus membantu ku mengerjakan tugas selama aku tidak masuk, Hina-chan" pinta Riz.
"Ok, ok.. Pasti ku bantu kok. Tenang aja." ujar Hinata santai.
"Ya, thanks banget cantik.." ujar Riz.
"Hihihi, makasih.. Tapi sekarang apa kamu sudah benar-benar sembuh?" tanya Hinata.
"Lumayan, sekarang agak baikan. Kepala ku sudah gak sakit dan pusing-pusing lagi kok" kata Riz sambil mengelus kepalanya.
"Waaaahh.. Suyukurlah" kata Hinata tersenyum senang.
To Be Continoued
Tidak ada komentar:
Posting Komentar