Minggu, 17 Januari 2016

9 Jenis Emosi dalam Pengambilan Keputusan

Liburan pun berakhir.
Kemarin, 16 Januari 2016 saya
kembali melakukan perjalanan udara untuk kembali ke Bandung.

Lantas sembari menunggu dalam pesawat, saya biasanya melihat-lihat majalah Lion (Lion Magz) yang tersedia di kantong belakang tempat duduk penumpang.
Dan saya menemukan tulisan menarik bagi saya seperti tahun lalu, yang berjudul "Hadiah yang Terindah".
Tulisan kali ini berkenaan dengan jenis emosi dalam pengambilan keputusan.
Berikut artikel yang saya baca.

***

Pernahkah anda mengalami kesulitan pada saat hendak memutuskan sesuatu?  Di satu sisi Anda tahu keputusan apa yang seharusnya Anda ambil namun  di sisi lain ada suatu perasaan dan keinginan kuat yang mendorong Anda  untuk mengambil keputusan yang lain yang sama sekali bertentangan.  Mungkin sebagian dari Anda, pada situasi tersebut, memilih untuk  menggabungkan dua keputusan menjadi satu dan hasilnya ternyata tidak  optimal atau bahkan malah gagal sama sekali. Meskipun banyak metoda  ilmiah dan praktis bisa digunakan dalam mengambil keputusan seperti  penyusunan skala prioritas dan pembobotan, namun tak bisa dipungkiri  bahwa yang namanya pengambilan keputusan tidak bisa lepas dari faktor  emosi. Pertanyaannya adalah bagaimana kita mengendalikan dan menggunakan  emosi kita pada saat-saat kritis yang bisa berdampak terhadap  kelangsungan hidup kita, perusahaan, masyarakat sekitar atau bahkan  Negara?

Dalam hal ini, saya teringat dengan penjelasan rekan dan sekaligus  mentor saya, Bapak Agus Riyanto dimana beliau menegaskan bahwa ada 9  jenis emosi yang biasanya menjadi landasan bagi manusia dalam mengambil  suatu tindakan tertentu. Kesembilan jenis emosi tersebut adalah sebagai  berikut:

1. Apathy (Ketidakpedulian)
Sikap dan tindakan yang dilakukan didasari rasa ketidakpedulian sehingga  segala sesuatu dikerjakan secara asal-asalan. Hasilnya pun tentu saja  asal jadi. Dalam pengambilan keputusan, sikap apathy mendorong seseorang  untuk tidak memutuskan apa-apa atau tidak berbuat apa-apa

2. Grief (Kesedihan)
Perasaaan kehilangan atau kekecewaan karena tidak berhasil mendapatkan  apa yang diinginkan telah menjadi pemicu dari sikap, tindakan atau  keputusan yang diambil. Dalam situasi ini maka hasrat untuk membangun  atau mencapai sesuatu yang baik telah memudar sehingga seseorang gagal  mencapai potensi terbaiknya

3. Fear (Ketakutan)
Di tengah tekanan yang berat seperti misalnya karena batas waktu atau  ketiadaan sumber daya, seseorang bisa mengalami rasa takut yang bisa  dimanifestasikan dalam bentuk kepanikan. Kekhawatiran yang berlebihan  karena menghadapi sesuatu yang belum pernah dihadapi juga bisa menjadi  pemicu ketakutan. Dalam situasi seperti ini maka seseorang tidak bisa  berfikir dengan jernih dan bersikap tenang sehingga lalai dalam  mempertimbangkan semua kemungkinan yang ada.

4. Lust (Keserakahan)
Rasa ingin memiliki atau menguasai sesuatu secara berlebihan bisa jadi  merupakan wujud keserakahan. Dalam dorongan emosi seperit itu maka  seseorang bisa kehilangan kendali atas logikanya sehingga kurang teliti  dalam melakukan perhitungan dan pertimbangan untuk membuat keputusan  yang bisa berakibat fatal terhadap dirinya, keluarganya atau  organisasi/institusi yang dipimpinnya.

5. Anger (Kemarahan)
Keinginan yang kuat untuk melampiaskan amarah baik terhadap sesuatu atau  seseorang bisa berujung pada tindakan yang berpotensi merusak atau  menyakiti. Tentu saja seseorang yang mengambil keputusan dengan dasar  amarah akan tertutup pikiran dan hatinya dari berbagai pertimbangan yang  sehat dan tujuan yang baik. Dalam keadaan seperti ini, biasanya  keputusan yang dibuat tidak membawa perbaikan yang diharapkan tetapi  justru malah memperparah keadaan.

6. Pride (Kesombongan)
Dengan alasan harga diri dan keinginan membuktikan kemampuan yang  dimilikinya, seseorang bisa terjebak dalam emosi kesombongan pada saat  membuat suatu keputusan. Dalam situasi ini, maka seorang pengambil  keputusan bisa jadi melakukan tindakan yang tidak efisien seperti  penggunaan sumber daya secara berlebihan atau bahkan melakukan tindakan  yang tidak berguna sama sekali hanya karena ingin memamerkan kemampuan  yang dimilikinya.

7. Courageous (Keberanian)
Keinginan yang kuat untuk mempertahankan atau menyelamatkan sesuatu bisa  mendorong keberanian seseorang yang berujung pada kegigihan yang tiada  bandingannya. Dasar keputusan yang dibuat adalah keberanian untuk  menghadapi bahaya yang mengancam. Karena itu biasanya sang pengambil  keputusan akan lebih hati-hati dalam memperhitungkan segala sesuatunya  sehingga keputusan yang dibuat berpotensi untuk menghasilkan sesuatu  yang baik.

8. Acceptance (Penerimaan)
Sikap yang siap menerima segala kemungkinan yang terjadi biasanya muncul  setelah usaha terbaik dilakukan. Inilah bedanya antara acceptance  dengan apathy. Pada situasi dimana emosi untuk menerima (acceptance)  telah terbentuk, biasanya emosi-emosi lainnya seperti kesedihan,  ketakutan, keserakahan, kesombongan, dan kemarahan mulai mereda atau  bahkan hilang sama sekali. Karena itu, sang pengambil keputusan akan  lebih jernih berfikir dan bersikap lebih tenang sehingga bisa melihat  peluang-peluang yang sebelumnya tidak diperhitungkan. Karena itu,  keputusan yang dibuat dengan dasar acceptance biasanya akan berujung  pada sesuatu yang baik.

9. Peace (Kedamaian)
Keinginan untuk menciptakan atau mencapai kedamaian merupakan emosi yang  sangat baik karena biasanya emosi yang satu ini tidak mengandung  kepentingan pribadi tetapi lebih mengutamakan kepentingan orang lain.  Dengan landasan emosi yang demikian, maka seorang pengambil keputusan  akan bersikap sangat arif dan obyektif sehingga mampu menggali semua  kemungkinan terbaik yang bisa dilakukan. Hasilnya, tentu saja keputusan  yang berubah manis bagi dirinya dan orang lain.

Kita semua tentu bisa segera menyimpulkan bahwa enam emosi yang pertama merupakan emosi yang negatif atau jenis emosi yang sebaiknya dihindari pada saat membuat keputusan apalagi keputusan yang sangat penting dan berdampak luas. Kisah Hitler pada saat menyerbu Soviet merupakan sebuah contoh yang sangat baik dalam menjelaskan pengaruh emosi negatif. Kekuatan dan kelebihan Jerman seperti kecerdasan strategi para jendralnya, keahlian dan pengalaman para prajuritnya, serta ketangguhan dan kecanggihan peralatan perangnya menjadi tidak berarti karena terkubur di bawah ketakutan, keserakahan, kesombongan dan kemarahan sang diktator. Akibatnya, Hitler luput memperhitungkan kecukupan jumlah tentara, perlengkapan, amunisi dan suplai makanan mengingat luasnya wilayah Soviet. Hitler juga tidak menghiraukan saran-saran dari para Jenderalnya. Bahkan, ia terlalu meremehkan jumlah pasukan dan kecepatan produksi senjata yang bisa dihasilkan Stalin. Dan, yang terpenting, Hitler alpa memperhitungkan semangat juang tentara merah yang pantang menyerah. Emosi negatif yang begitu mendominasi sang fuhrer menyebabkan ia melakukan keputusan-keputusan bodoh seperti tidak membekali pasukannya dengan baju hangat yang tebal untuk menghadapi musim dingin di Rusia yang terkenal ganas karena Hitler memperkirakan Jerman sudah bisa menundukkan Soviet dalam waktu enam bulan saja sebelum musim dingin tiba. Ternyata perang tersebut membutuhkan waktu bertahun-tahun. Jerman akhirnya terseret dalam pertempuran gerilya di dalam kota dan peperangan melawan cuaca, lapar dan keputusasaan. Bahkan di tengah kepanikannya, Hitler berkali-kali membuat blunder dengan merelokasi pasukan dan peralatan perangnya pada saat dan untuk tujuan yang tidak tepat. Hasil akhirnya, kita sama-sama tahu. Penyerangan Jerman ke Rusia menjadi titik balik kekalahan Jerman di Eropa dan kekalahan poros Jerman, Jepang, dan Italia dalam perang dunia ke-2.

Tiga emosi yang terakhir merupakan emosi positif yang memberikan kita kekuatan yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya. Bahkan ada pendapat yang mengatakan bahwa bila kita menggunakan emosi positif, maka kita akan mendapatkan bantuan atau pertolongan dari “tangan yang tidak terlihat”. Pertanyaannya adalah bagaimana kita menjaga emosi kita agar selalu menggunakan ketiga emosti positif tersebut dalam membuat keputusan? Sebagian dari jawaban itu terletak pada kepekaan kita untuk selalu bertanya kepada diri kita sendiri apakah kita melakukan sesuatu karena emosi positif atau negatif? Seperti misalnya keputusan kita untuk menerima suatu jabatan tertentu, apakah karena keinginan kita untuk membawa perbaikan (peace) ataukah keinginan untuk menunjukkan kemampuan kita (pride) ? Atau malah keinginan kita untuk mendapatkan materi yang lebih banyak (lust)? Bila kita sudah memiliki kepekaan untuk selalu menguji emosi maka sisa jawabannya akan ditemukan seiring waktu. Karena emosi kita sesungguhnya bisa berubah dari waktu ke waktu. Manusia tidak sempurna. Tetapi bisa selalu menjadi lebih baik. Karena itu, penting bagi kita untuk tidak cepat merasa puas karena kita sudah mendasari suatu keputusan dengan emosi yang positif. Ingat, suatu keputusan yang diawali dengan courageous bisa jadi berubah menjadi pride bila kita tidak hati-hati menjaganya

Sumber: Majalah Lion Air

2 komentar: