Minggu, 18 Januari 2015

Hadiah Yang Terindah

18 Januari 2015 saat saya naik pesawat menuju Bandung, saya mengambil majalah yang tersimpan di belakang kursi penumpang, sekedar untuk melihat-lihat isinya. Dan saya menemukan sebuah cerpen inspiratif. so, check this out :)

Hadiah Yang Terindah  oleh Jemy V. Confido

Hadiah yang terindah

Seorang petani miskin dan seorang saudagar kaya mempersembahkan hadiah di hadapan sang raja. Si petani membawa seekor ayam sedangkan sang saudagar mempersembahkan lima ekor ayam. Setelah ayam-ayam tersebut dipersembahkan ke hadapan sang raja, maka sang raja pun bertanya, “Mengapa kalian mempersembahkan ayam–ayam ini kepadaku?”
Sang saudagar menjawab dengan lantang, “Hamba mempersembahkan lima ekor ayam ini karena hamba telah mendapatkan keuntungan yang besar dalam usaha hamba.”

Sang raja nampak tidak terkesan dengan jawaban sang saudagar. Lalu ia pun bertanya kepada si petani, “Dan kamu, mengapa kamu mempersembahkan seekor ayam kepadaku?”

“Hamba mempersembahkan hanya satu ekor ayam karena hamba berdoa agar Baginda dan kerajaan yang Baginda pimpin ini tetap utuh sebagai satu kesatuan.” jelas sang petani.

“Oh, begitu.” Baginda pun termanggut–manggut. “Sekarang, coba jelaskan bagaimana Aku dan keluargaku sebaiknya menyantap ayam persembahanmu ini?”

“Begini Baginda, sebagai seorang raja yang memimpin negeri ini, Baginda merupakan kepala negara. Karena itu, Baginda sebaiknya menyantap kepala ayam ini sebagai symbol kepemimpinan Baginda.”

Sang petani mulai menjelaskan.
“Tuanku Ratu, yang mendampingi Baginda dalam menjalankan roda pemerintahan, merupakan pendamping setia yang ikut menentukan arah sang pemimpin, karena itu, Tuanku Ratu ibarat leher dari ayam ini sehingga sebaiknya Tuanku Ratu menyantap leher dari ayam ini.

Sang raja tertegun mendengar penjelasan si petani. “Lalu bagaimana dengan anak–anak kami?” Tanya sang ratu yang duduk persis di sebelah kanan sang raja.
“Untuk kedua pangeran, mereka merupakan tiang–tiang pancang yang kokoh bagi ketahanan kerajaan ini. Kekokohan mereka sama ibaratnya dengan kedua kaki dari ayam ini. Karenanya kedua pangeran sebaiknya menyantap kaki–kaki ayam ini.” Kata si petani dengan tenang; sedangkan untuk kedua puteri, karena mereka akan menikah dengan pangeran–pangeran dari negeri seberang, maka mereka ibarat sepasang sayap ayam ini yang memberikan bimbingan terhadap perjalanan mereka. Sehingga, hamba menyarankan agar kedua puteri menyantap sayap –sayap ini.” Demikian si petani mengakhiri penjelasannya.

Raja dan ratu tampak senang dengan penjelasan si petani. “Kau sangat bijak rakyatku. Tapi bagaimana dengan badan ayam ini? Bukankah dari tadi kau belum menyinggungnya sama sekali?” sang raja yang kali ini bertanya.

“Baginda,” si petani menahan nafas, “Hamba sangat peduli dengan kesehatan Baginda yang sudah sering menikmati hidangan lezat dari koki istana. Menyantap terlalu banyak hidangan lezat kurang baik untuk kesehatan Baginda tentunya.” Begitu penjelasan si petani. Lalu, iapun melanjutkan kalimatnya, “Karena itu, perkenankanlah hamba membawa kembali badan ayam ini agar dapat hamba bagikan kepada keluarga hamba dan tetangga-tetangga hamba yang akan sangat gembira sekali mendapatkan badan ayam ini untuk disantap bersama-sama.”

Raja dan ratu pun tertawa geli namun sambil manggut–manggut, raja membenarkan ucapan sang petani. Di tengah tawanya, tiba–tiba sang ratu bertanya, “Lalu bagaimana dengan dengan lima ekor ayam yang diberikan oleh sang saudagar?”

Sang saudagar kebingungan sehingga tidak bisa menjawab. Iapun hanya terdiam seribu bahasa. Si petani kemudian memberanikan diri menjawab, “Baginda ratu, perkenankanlah hamba menjawab.” Ratu pun kemudian mempersilahkan.

“Ayam–ayam pemberian saudagar ini sebaiknya tidak disantap melainkan dipelihara saja.” Si petani mengawali penjelasannya. “Tuanku Raja dan Ratu memelihara satu ekor ayam, tuanku kedua puteri memelihara satu ekor ayam.” Demikian lanjut si petani. “Sedangkan sisa dua ekor ayam, biarlah hamba yang memelihara.”

Dengan keheranan ratupun bertanya, “Mengapa engkau membaginya seperti itu petani?”
“Tuanku raja dan ratu beserta satu ekor ayam jumlahnya menjadi tiga. Demikian pula dengan tuanku kedua pangeran dan tuanku kedua puteri.” Si petani pun menjelaskan. “Begitu pun hamba dan kedua ekor ayam ini jumlahnya menjadi tiga.”

Raja dan ratu pun sangat senang dengan cara si petani membagi bagikan kelima ekor ayam tersebut. Maka si petani pun diperkenankan pulang membawa dua ekor ayam dan sisa badan ayam miliknya yang sudah dipersembahkan kepada raja. Ia yang hanya mempersembahkan tidak sampai satu ekor ayam mendapatkan pujian dari raja dan ratu. Di pihak lain, sang saudagar pulang dengan tidak mendapatkan pujian dari raja dan ratu padahal ia mepersembahkan lebih banyak ayam.
Kisah di atas mungkin cukup menggelikan bagi sebagian para pembaca. Namun di balik itu, kisah di atas juga mengingatkan kita tentang satu hal : kebahagiaan dari suatu hadiah yang diterima seseorang tidak selalu ditentukan oleh nilai materialnya. Ada hal-hal lain yang juga memberikan kegembiraan dari suatu hadiah. Salah satu yang paling penting adalah bagaimana hadiah tersebut dimaknai baik oleh orang yang memberikan maupun orang yang menerimanya. Agar sebuah hadiah bisa memberikan makna yang mengesankan bagi pihak yang menerima, ada tiga hal yang perlu diperhatikan.

ALASAN. Dalam kisah di atas, si petani memilliki alasan yang lebih baik dibandingkan sang saudagar dalam mempersembahkan ayamnya bagi sang raja. Alasan merupakan unsur yang mewarnai sebuah hadiah. Hadiah yang mahal akan terasa hambar ketika tidak disertai dengan alasan yang kuat. Karena itu sebelum memutuskan untuk memberikan hadiah kepada seseorang, temukan alasan mengapa Anda memberikan hadiah tersebut. Alasan–alasan seperti ulang tahun atau hari istimewa tertentu merupakan alasan yang wajar namun sedikit standar. Anda bisa menemukan alasan yang lebih esensial seperti karena ia telah berusaha keras atau karena ia telah memperlihatkan banyak kemajuan dalam suatu hal tertentu. Alasan–alasan seperti ini bisa jadi memberikan motivasi yang kuat bagi orang yang menerimanya.

TULUS. Sebuah hadiah dinilai bukan dari nilai mutlaknya namun dari nilai relatifnya. Satu ekor ayam bagi sipetani mungkin sama artinya dengan satu – satunya ternak yang ia miliki. Sementara lima ekor ayam bagi sang saudagar mungkin hanya sebagian kecil saja dari penghasilannya dalam satu hari. Suatu hadiah yang merupakan bagian penting dari orang yang memberikannya akan memancarkan ketulusan yang akan selalu dikenang oleh orang yang menerimanya.

WAKTU. Hadiah juga akan diartikan berbeda bila diberikan pada saat berbeda, disini hukum momentum berlaku. Memberikan hadiah terlalu terlambat akan mengurangi kegairahan sedangkan memberikan hadiah terlalu cepat juga bisa memberikan tekanan. Bila Anda terpaksa terlambat memberikan hadiah, usahakan untuk menghubungi terlebih dahulu orang yang akan menerima hadiah tersebut pada saat kapan seharusnya hadiah itu diberikan. Katakan padanya bahwa Anda telah menyiapkan hadiah baginya namun belum bisa memberikannya saat ini. Bisa juga Anda terlambat memberikan hadiah karena Anda kelupaan atau terlambat mendapatkan informasi. Dalam situasi seperti itu, pastikan Anda meminta maaf untuk keterlambatan Anda. Usahakan untuk tidak memberikan hadiah terlalu cepat khususnya bila hadiah tersebut berkaitan dengan pencapaian. Bila hasil yang dicapai orang tersebut ternyata tidak sesuai harapan, maka orang yang menerima hadiah tersebut bisa merasa kurang nyaman.

Disamping ketiga hal di atas, sebuah hadiah seharusnya menjadi anugerah baik bagi yang menerima dan terutama bagi yang memberikannya. Pihak yang menerima akan merasakan kebahagiaan karena ia mendapatkan perhatian yang diharapkannya. Sebaliknya, pihak yang memberikan hadiah akan merasakan kebahagiaan karena bisa membahagiakan orang tersebut. Yang harus diperhatikan adalah bahwa kebahagiaan itu muncul karena adanya perhatian dan bukan karena hadiah. Oleh sebab itu, bila Anda merasa kebingungan dalam memilih hadiah, hilangkanlah seluruh kekhawatiran  Anda. Kehadiran Anda pada saat yang tepat (saat ini) serta dukungan dan doa yang Anda berikan selama ini sudah merupakan hadiah yang terindah. Itulah sebabnya dalam berbahasa Inggris, “Kehadiran”, “Saat ini” dan “Hadiah” dirujuk dengan menggunakan kata yang sama yaitu present.

Kehadiran Anda pada saat yang tepat (saat ini) serta dukungan dan doa yang Anda berikan selama ini sudah merupakan hadiah yang terindah. Itulah sebabnya dalam bahasa Inggris, “Kehadiran”, “Saat ini” dan “Hadiah” dirujuk dengan menggunakan kata yang sama yaitu present.
Sumber : Majalah Lionmag, edisi Januari 2015, hal 20-22

Tidak ada komentar:

Posting Komentar