Selasa, 16 Juli 2013

D-1 Before To The New World

15 Juni 2013..

Malam itu sekitar hampir jam 12, aku pengen internetan, trus aku ke kamar bapa ku nyalain modem. Tapi ternyata modemnya panas, jadi aku berinisiatif untuk menyalakan kipas angin yang biasa buat kompi. Sayangnya satu perangkat kipas angin itu sudah aku pakai buat bawa ke
Bandung, sisa satu lagi yang buat laptop di ruang TV.
Lalu, aku pun terpikir untuk memakai kipas angin kecil yang ada di kamar adikku. Aku pun melangkah menuju kamar adikku, dan mengangkat kipas itu dengan satu tangan. Saat sampai di kamar bapa ku, mau naroh kipas angin itu, tangan ku rasa terkilir. Aku merasa urat ku bengkak, aku takut sekali kalau tangan ku kenapa-kenapa. Soalnya, aku tadi paginya sudah urut, masa udah keseleo lagi, hiksss..

Aku takut banget, dan aku merasa sakit..
Aku pun gemeteran, putus asa.. Aku takut tangan ku bengkak, sedangkan aku harus berangkat besok. Aku sudah mikir pengen banget urut lagi, tapi... waktunyaa?
Aku pun gelisah terus-terusan, sampai-sampai aku menghampiri mama ku terus dan berkata “ma, ini gapapa?” dan mamaku terus menjawab “gapapa”

Aku tetap gelisah, aku takuuutttt...
Aku pun mengambil air wudhu, terus mau sholat tahajjud, minta buat tangan ku gapapa..
Sebelum ngangkat takbir, aku malah meringis, menangis..
Mamaku pun mendatangi, dan bertanya.. “ada apa? Kenapa lagi nangis? Mau sholat apa? Lho?! Bukannya tadi kita sudah sholat isya?”
Aku hanya meringis, dan tak menjawab pertanyaan mamaku..
Setelah mamaku ke ruang TV, aku sholat.

Setelah sholat, hatiku tetap tidak tenang. Aku pun meringkuk di sebelah mamaku, dengan menggandeng tangan mamaku..
“Gapapa, ini gapapa.. Ini cuma pegel aja..” mamaku terus berkata demikian..
Bapa ku yang sudah pulang, disamping mama ku juga berkata “gapapa ah itu, masa ngangkat kipas angin aja kayak gitu”
“Ini gapapa nak” kata mama ku sambil mengusap-usap tangan ku.
Aku pun beranjak ke kamar ku, mengambil boneka beruang putih (Papao) dan sapi kuning kecil (Momoo).
Mereka berdua guardians yang bakal aku tinggal di rumah, sesuai kata Ichad.

Aku memeluk mereka, tapi aku tetap kepikiran. Aku pun ke ruang TV lagi, meringkuk menggandeng mamaku.
Aku bilang ke mama ku, “Ma nanti kalau bangun jam 4 sempat?”
Mamaku menjawab, “Mau bangun jam 4 kah? Ya, nanti dibangunin siap-siap”
Aku membalas, “Bukan, mau ke tempat julak”
Mamaku jawab, “Mana sempat lagi waktunya, jam 7 kamu sudah harus berangkat ke Bandara”
Aku bilang, “Jam setengah 10 juga pesawatnya berangkat”
Mamaku, “Mana ada, jam 8 kamu harus sudah check in”

Aku pun tetap gelisah dan meraih Hp ku, aku ke kamar.. Aku menelpon julakku tengah malam..
Aku pun menceritakan keluhanku dan bertanya apakah tangan ku tidak papa dan ada urat yang menyembul ke permukaan. Julak menjawab tidakpapa, minta urutkan mama aja pelan-pelan sampai ke lengan.

Aku pun agak lega, julakku saja berkata demikian.. mamaku yang disamping pun menanyakan apa kata julak aku jawab kalau julak bilang gapapa, diurut aja pelan-pelan sampai ke bantalan lengan,
Mamaku merespon, “Nah julakaja bilang gapapa, kayak gini aja nelpon julak segala, sudah gapapa..”
Aku menyerahkan tangan ku dan mama ku mulai mengurutnya dengan membaca shalawat dan meniup tangan ku.

Aku pun memejamkan mata sambil memeluk kedua Guardians ku tadi.
Lambat laun aku merasa nyaman saja, jadi aku putuskan tidur saat mamaku berhenti mengurut.
Tapi sebelumnya aku sempatkan minta pamit sama Tante, Bude, dan Kakanya Ichad yang ada di Facebook.
Tak lupa juga mengsms mama Ichad dan Bu Gaz yang sudah duluan sebelum tragedi kipas angin itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar